Elektrifikasi Jalur Rangkasbitung-Merak Dinilai Layak, KRL Berpeluang Sampai Merak

Sumber Gambar :

Serang—Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perhubungan Provinsi Banten membahas hasil Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Serang-Cilegon-Merak sebagai bagian dari upaya meningkatkan konektivitas dan pelayanan transportasi publik di Provinsi Banten.

Pembahasan studi tersebut dilaksanakan dalam rapat di Aula Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Rabu (16/9/2026). Studi kelayakan ini disusun untuk melihat tingkat kelayakan rencana elektrifikasi dari aspek teknis, ekonomi/finansial, lingkungan, dan kelembagaan. Bahwa dari hasil kajian tersebut, layanan elektrifikasi kereta api berpeluang diperpanjang hingga Kota Serang, Cilegon sampai di Statsiun Merak.

Rencana elektrifikasi menjadi penting karena saat ini layanan kereta api dari Jakarta menuju Merak masih terbagi dalam dua layanan. Layanan Kerata Rel Listrik (KRL) Commuter Line melayani lintas Tanah Abang-Rangkasbitung, sementara lintas Rangkasbitung-Serang-Cilegon-Merak masih menggunakan kereta dengan lokomotif. Kondisi tersebut membuat penumpang dari arah Merak menuju Jakarta maupun sebaliknya harus berganti kereta di Stasiun Rangkasbitung.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungna Provinsi Banten, Endad Haryanto, mengatakan bahwa studi kelayakan yang telah disusun menunjukkan bahwa elektrifikasi Jalur Rangkasbitung-Merak layak untuk dibangun.

Menurutnya, rencana tersebut dapat diintegrasikan dengan pembangunan jalur ganda (double track) Rangkasbitung-Merak yang telah masuk dalam rencana pembangunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian hingga 2029.

“Dengan terbangunnya elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak, layanan operaisonal KRL commuter line dapat diperpanjang sampai Serang, Cilegon, dan Merak,” Ujar Endad, Senin (21/09/2026).

Namun, opsi pengembangan elektrifikasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari jalur Rangkasbitung-Serang, kemudian dilanjutkan hingga Cilegon dan berakhir di statsiun Merak.

Untuk mengoperasikan KRL tersebut, Endad menjelaskan diperlukan sejumlah prasarana pendukung. “sejumlah kebutuhan pendukung juga menjadi perhatian, antara lain fasilitas stabling KRL, fasilitas pelayanan penumpang dan alih moda, akses menuju stasiun, serta peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang. Aspek lingkungan, dampak lalu lintas, kebencanaan, dan keselamatan masyarakat di sekitar jalur kereta juga menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengembangan elektrifikasi,” Kata dia.

Endad mengungkapkan bahwa total biaya investasi untuk merealisasikan elektrifikasi jalur Rangkas-Merak bisa mencapai angka Rp 1,29 triliun. “Pengembangan jalur kereta api Rangkasbitung-Merak membutuhkan biaya investasi sekitar Rp 1,29 triliun,” ungkapnya.

Meski membutuhkan biaya investasi yang besar, Pemprov Banten menilai proyek elekttrifikasi ini memiliki prospek yang cerah secara ekonomi.

Hasil kajian mencatat nilai Economic Internal Rate of Return (EIRR) berada di atas 10 persen sehingga dikategorikan layak diinvestasikan oleh pemerintah. Hasil kajian juga mencatat akan terjadi peningkatan kapasitas layanan dari sekitar 9.900 penumpang per hari menjadi 18.000 penumpang per hari setelah dilakukannya elektrifikasi.

Hasil Studi Kelayakan Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Merak selanjutnya menjadi salah satu dokumen kesiapan yang dapat digunakan Pemerintah Provinsi Banten dalam menyampaikan usulan kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian.


Share this Post