DNA Cocok, Polda Banten Pastikan Jasad di Enggano adalah Kru KM Arupadhatu 1

Sumber Gambar : PPID Dinas Perhubungan Provinsi Banten

Serang— Konferensi pers terkait penemuan jasad tanpa identitas di Pulau Enggano, Bengkulu, digelar di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Banten, Rabu (23/9/2026). Dalam konferensi pers tersebut, Polda Banten menyampaikan hasil identifikasi terhadap jasad yang ditemukan dan dikaitkan dengan hilangnya KM Arupadhatu I di perairan Selat Sunda.

Hasil pencocokan DNA antara keluarga korban hilangnya KM Arupadhatu I di Selat Sunda dengan jenazah tanpa identitas (Mr. X) di Pulau Enggano, Bengkulu, dinyatakan identik. Kapolda Banten Irjen Hengki menyebut, jenazah tersebut terkonfirmasi sebagai anak buah kapal (ABK) KM Arupadhatu I bernama Surakman yang membawa rombongan jurnalis saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu.

"Hasil tes DNA dari delapan keluarga korban KM Arupadhatu I adalah Surakman," ujar Hengki dalam konferensi pers di Polda Banten,  Rabu, 23 September 2026.

Hengki mengatakan, jenazah Surakman ditemukan pada Sabtu, 12 September 2026, di Perairan Sawang Bangkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Saat ditemukan, jenazah mengenakan celana pendek berwarna hitam, dengan tinggi sekitar 163 sentimeter dan diperkirakan berusia 50 tahun.

"Proses identifikasi mayat disepakati untuk dilakukan pencocokan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI)," ungkapnya.

Lebih lanjut, Hengki mengatakan jenazah Surakman dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Kamis, 24 September 2026. Sementara itu, waktu kedatangan jenazah masih dalam tahap koordinasi dan persiapan.

"Kita terima bersama gubernur, Basarnas, dan tim terpadu akan menyambut kedatangan jenazah di Bandara Soekarno-Hatta besok. Kita tinggal lihat waktunya, masih dilakukan persiapan-persiapan di Bengkulu," urai Hengki.

Di tempat yang sama, Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas teridentifikasinya jenazah Surakman (60), salah satu Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu 1.

Di tempat yang sama, Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan belasungkawa atas  teridentifikasinya jenazah Surakman (60) salah satu anak buah kapal (ABK) KM Arupadhatu 1.

“Atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, kami menyampaikan belasungkawa. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dan keikhlasan,” ungkap Gubernur Andra.

Ia juga menegaskan, Pemprov Banten bersama Polda Banten akan terus hadir mendampingi keluarga korban. Pendampingan ini mencakup seluruh proses, mulai dari pemulangan jenazah hingga prosesi pemakaman.

“Insyaallah, kita bersama Polda Banten akan terus mendampingi keluarga dan menginformasikan setiap perkembangan yang ada. Kita juga akan mendukung penuh proses pemulangan jenazah dan pemakamannya,” tutur Gubernur Andra.

Lebih lanjut, Gubernur Andra berharap tujuh korban lainnya yang hingga kini masih dalam pencarian dapat segera ditemukan. Ia turut mengajak masyarakat untuk mendoakan keselamatan para korban.

“Kepada keluarga dari tujuh korban yang belum ditemukan, semoga kita segera mendapatkan titik terang dan akan terus diinformasikan. Kita berharap dan senantiasa berdoa untuk segera menemukan saudara-saudara kita,” imbuhnya.

Sebagai informasi, KM Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal yang bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, dan dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026.

Berikut ini identitas delapan orang yang hilang tersebut: 1. M Bagus Khoirunnas (ANTARA) 2. Ari Basuki (Merdeka.com) 3. Yudistiro Pranoto (iNews) 4. Firman Daus (Anadolu Agency) 5. Donal Husni (jurnalis lepas/freelance). 6. Warta (kapten kapal), 7. Surakhman (anak buah kapal/ABK), 8. Heriyanto (pemandu).

Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Banten, Amrad, menerangkan bahwa meskipun operasi pencarian secara resmi telah ditutup setelah berlangsung selama 10 hari, pemantauan dan koordinasi lintas wilayah masih terus dilakukan.

"Hingga saat ini, kami terus berkoordinasi dengan Kantor SAR (Kansar) Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir serta melibatkan para nelayan sekitar. Meski hasilnya sementara masih nihil, termasuk pemantauan di wilayah perairan Lebak, upaya koordinasi ini tidak dihentikan," pungkasnya.


Share this Post